Jajanan Khas Jajanan KhasTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
food

Cireng: Jajanan Khas Murah yang Selalu Bikin Penasaran

Mengupas alasan cireng tetap jadi jajanan khas murah favorit: dari bahan sederhana, cara buat praktis, hingga versi kekinian yang tetap terjangkau.

18 Mar 2026 · 2 menit baca · oleh Redaksi Jajanan Khas
Cireng: Jajanan Khas Murah yang Selalu Bikin Penasaran

Pertama kali saya melihat cireng di lapak pinggir jalan Pulauyamdena, saya langsung penasaran. Bentuknya putih gepeng, digoreng hingga garing, lalu dicocol saus sambal yang merah menyala. Harganya cuma seribuan per biji, tapi rasanya bikin ketagihan. Sebagai seorang yang suka mengutak-atik bahan makanan, saya lalu bertanya: apa yang membuat jajanan ini begitu murah namun tetap laris dari pasar tradisional hingga gerai modern?

Kenapa Cireng Begitu Murah dan Tetap Digemari?

Jawabannya ada pada bahan utamanya: tepung tapioka atau aci. Harga aci per kilogram jauh di bawah harga beras atau terigu protein tinggi, sehingga margin keuntungan pedagang tetap tebal meski menjual seribu rupiah. Prosesnya juga sederhana — mencampur aci dengan air panas dan bumbu dapur seperti bawang putih dan garam, lalu diaduk hingga kalis. Saking mudahnya, saya sering membuat sendiri di rumah. Satu resep bisa menghasilkan dua puluh biji cireng dengan modal tak sampai sepuluh ribu rupiah.

Hal lain yang membuat cireng murah adalah isiannya yang opsional. Versi asli jajanan khas Sunda ini tak perlu daging atau keju. Cukup saus sambal pedas saja sudah sempurna. Namun rasa penasaran saya mendorong untuk mencoba variasi: cireng isi bakso, cireng bumbu rujak, hingga cireng dengan taburan bubuk cabai. Semua tambahan itu tetap berbiaya rendah dan menjaga cireng sebagai jajanan khas murah yang fleksibel.

Tidak mengherankan jika cireng kini merambah kafe milenial. Saya temui versi cireng renyah ekstra dengan saus mayo pedas, tetap dijual di kisaran harga lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Daya tariknya tetap pada tekstur kenyal-garing dan rasa pedas yang membangunkan lidah. Wikipedia mencatat bahwa cireng sudah ada sejak tahun 1980-an dan menjadi ikon jajanan murmer — murah meriah — di Jawa Barat. Dari satu budaya lokal, cireng membuktikan bahwa jajanan khas murah bisa naik kelas tanpa kehilangan identitas.

Tapi di balik kelezatan dan harga murah, cireng mengajarkan saya soal kreativitas. Makanan sederhana dapat diubah dengan sedikit bumbu tambahan atau cara penyajian yang baru. Saya sering bereksperimen di dapur Pulauyamdena, mencampur aci dengan sedikit terigu agar lebih garing, atau menambahkan irisan daun bawang supaya lebih wangi. Hasilnya tetap jajanan khas murah, tapi dengan sentuhan pribadi Versi lebih panjang di jajanan khas keluarga.

Ketika sore tiba dan uang di saku terbatas, cireng selalu jadi pilihan. Tidak hanya mengenyangkan, gigitan demi gigitan terasa seperti petualangan rasa: pedas, asin, gurih, dan tekstur yang memanjakan. Jajanan khas murah ini adalah bukti bahwa makanan enak tidak perlu mahal. Dari Pulauyamdena ke seluruh Indonesia, cireng mengingatkan saya pada satu hal: kenikmatan sejati lahir dari kesederhanaan yang diolah dengan rasa ingin tahu.

Piring berisi cireng goreng bertumpuk dengan saus sambal merah di sampingnya

Bahan bacaan: sumber resmi

Tag: #jajanan khas #kuliner murah #cireng #jajanan tradisional #resep rumahan